Hidup dalam kenyataan, hidup dalam kebijaksanaan atau dengan kata lain mastery in life. Dalam training mengenai mastery in life (menjadi ahli dalam kehidupan), saya diajar bagaimana hidup pada saat ini dengan kata lain terhubung dengan keadaan saat ini. Untuk mendapatkan 100% kekuatan dalam hidup ini, kita harus berada tepat di mana kita ada saat ini.
Pencuri terbesar dalam kekuatan hidup manusia adalah kekuatiran akan masa depan dan rasa bersalah dan penyesalan terhadap masa lalu. Dalam sesi konseling, saya sering mendengar seorang yang berumur di atas 30 tahun masih mengatakan bahwa hidupnya tidak sukses karena masa kecilnya tidak bahagia ada yang menyalahkan orang tuanya yang tidak mampu menyekolahkan dia sampai sarjana. Mereka hidup di masa lalu, dan energi untuk hidup di saat ini dihabiskan untuk menyesali masa lalu yang sudah tidak dapat diubah lagi. Dan anehnya ada juga yang tidak berani melangkah menuju perubahan di masa depan karena kuatir terhadap masa itu.
Dalam Amsal 1:22 mengatakan "Berapa lama lagi kamu akan mencemoohkan kebijaksanaan dan melawan kenyataan?" Dengan kata lain, sewaktu kita hidup dalam bayang-bayang masa lalu dan ketakutan akan masa depan, kita mencemooh kebijaksanaan bahkan melawan kenyataan. Untuk memperoleh yang terbaik dalam hidup kita harus menggunakan 100% energi kita untuk melakukan hal-hal yang produktif. Caranya adalah dengan fokus melakukan satu hal dalam satu satuan waktu sehingga didapat hasil secara efektif dan efisien.
Salah satu buku mengajarkan mengenai Power of Hour, maksudnya tiap satuan jam digunakan secara optimal. Ide ini seperti dalam Alkitab yaitu "Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana." Mazmur 90:12. Satu jam yang digunakan optimal lebih berharga daripada satu harian tetapi pikiran kita ditarik ke masa lalu atau masa yang akan datang. (OBS)
Subscribe to:
Post Comments (Atom)

No comments:
Post a Comment